Sometimes The Best Closure is No Closure
Guys you know what? waktu lagi merasa tertinggal atau sendirian, kita cenderung mencari keamanan untuk segera menyelesaikan permasalahan. Tapi..itu bisa aja karna respon impulsif buat seolah-olah nyelesain masalah, padahal bisa aja itu malah memperburuk keadaan. Mungkin yang akan kubahas bukan soal gimana sebuah kepastian itu bisa didapat ya, sebaliknya aku ingin memberi sudut pandang bahwa tidak ada kejelasan pun itu juga jawaban. Artinya.. kadang kita dibiarkan menggantung diambang iya atau tidak, boleh atau tidak serta kemungkinan lainnya.
Seperti tulisan-tulisanku yang lainnya juga. berulang aku menyebutkan kekuatan dicintai, mencintai dan dikasihi. Mari kita tetap berpikir demikian. Jika tidak dengannya, yasudahh.. Jika harus begini.. baiklah.. life is so simple, so just take it easy. Kasih sayang yang tulus akan tetap sampai.. Kita akan tetap mendapatkan kejelasan pada orang yang benar- benar mau. Mirisnya, mungkin saja orang kita inginkan tidak menginginkan kita ya? iyakan?
Paling susah memang mengalahkan ego sendiri. Untuk melakukan sesuatu sesuai kemampuan dan menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan lancar. Sudahi ego itu..
Temukan turning point dan sadari.. Saat momen ternyata merendahkan ego dan aku kalah telak. Malu jelas, gengsi pasti. Tapi selalu ada insight baru yang didapat dari rasa rendah diri itu. Toh pada akhirnya kita tetap hidup untuk orang-orang memang memilih kita dan bersyukur karna kita hadir dikehidupannya. Mereka yang memilihmu meski baru pertama kali bertemu bahkan tidak tahu kamu siapa. Kita tidak selalu mendapat apa yang diinginkan.. Bukan berarti tidak mau memperjuangkan keinginan. Kurasa daripada memaksakan kepastian dari orang yang memang tidak menginginkan kita, lebih baik fokus pada yang sama-sama menginginkan.
Akan selalu ada babak dimana keterpaksaan menangkis ego, lalu terkalahkan untuk kemudian menjadi lebih baik
Aku sendiri pernah berusaha untuk meminta kejelasan pada seseorang, membangun komitmen, dan maintance sebuah relasi. Bukannya mendapatkan feedback justru diabaikan, bukannya diberi kejelasan justru ditinggalkan. Yang kupelajari adalah, beberapa orang memang ditakdirkan menjadi tokoh kurang ajar, ya begitu hidup. Tidak apa, just take it easy.. Seiring dengan berjalannya waktu aku percaya bahwa diriku punya warna sendiri yang hanya bisa dinikmati oleh penikmat warnaku saja. Kita selalu punya pilihan untuk memberi atau membiarkan.
Kurasa tidak semua orang mempunyai kekuatan berbesar hati dan menerima lapang dada. Pengertian tanpa batas dan toleransi adalah kata kuncinya. berapa banyak maaf? berapa banyak maklum? berapa banyak menghela nafas? tidak mungkin, sekalipun orang lain mencintai kita ugal-ugalan dengan tidak ada konflik kan.. Kembali lagi jika memang tujuannya mau bagaimanapun badainya pada akhirnya kembali ke jalan semula. Takdir selalu menemukan jalannya.. Pasti. Sekalipun bukan kita dermaga akhirnya, setidaknya dengan tangki cinta yang ada akan mengarahkan kapal ke tujuan yang seharusnya atau mungkin sekedar menguatkan kita untuk tujuan yang lebih besar nantinya.
Pada sebuah ketergantungan ini, daripada memikirkan sebuah jawaban, mari kita besarkan rasa cintanya. Nikmati perasaanya karna manusia pun silih berganti. Setidaknya jika memang bukan kita tujuannya dengan tidak adanya jawaban itu. Menghabiskan waktu bersama pun sudah cukup.. iyakan? Kasih sayang hadir begitu saja bagi siapa saja. Dan memberi kasih sayang pun itu juga sebuah kehormatan. Akan selalu ada balasan meski tidak di saat yang sama atau di orang sama. Jadi, mari kita hidup untuk mereka yang mencintaimu dulu, sebelum cinta yang tepat datang nantinya. Tuhan juga mau mengabulkan keinginanmu dengan cara-Nya.
See you..
Komentar
Posting Komentar