The Moment I Chose Myself, Nothing Could Stop Me
"Dan Aku Memilih Menjadi Versi Diriku yang Tak Pernah Kuingkari"
Banyak hal terjadi diluar kendaliku. aku menemukan diriku terombang-ambing ditengah ambisi dan realita. Ketika usaha yang kutempuh nampaknya tak pernah cukup, seperti dihianati alam semesta. Mengapa alam semesta tak pernah berpihak kepadaku? Lagi-lagi aku harus bertarung untuk kesekian kalinya, Aku muak, tapi tak pernah benar-benar acuh. Who Know? pada akhirnya aku tetaplah diriku.. di perhelatan ini, aku tetap berdiri menghadapi semuanya. Di tahun 2024, ini menjadi berat sekali, karena aku mengharuskan semuanya setimpal, ternyata tidak. Aku menyalahkan diri sendiri dan keberuntungan orang lain. wajar, aku memang seorang yang tidak tahu diri dengan segala apa yang kuinginkan
ini beneran aku gadapet?
masa gini doang gabisa!
harusnya mah ini sepele
lah kocak.. siapa saya? Tuhan? dan yap, bahkan masukan seperti "kamu mungkin belum mampu, kamu perlu ini, kamu jangan seperti itu.." jadi pressure level 2 setelah menyalahkan diri. Aku marah akan nasib tapi tak cukup nyali untuk mati cepat. Sampai aku.. merefleksikan semuanya. mereka tidak bersalah menolakku, tak salah menasehatiku bahkan nasib pun juga tak tahu apapa. Kuteggak semuanya, menjalankan survive mode, event its still hurt. Tapi dengan aku masih hidup, maka aku masih punya kesempatan untuk mengulang lagi perjuangannya. sekali lagi, lagi, dan lagi. Tidak semua orang bisa sekuat itu. Sampai aku.. menemukan esensi menjalani ambisi tanpa mengharuskan.
Times doesn't erase the pain, but time is here to allow us how to live with it
Atau bagaimana jika memang yang diusahakan tidak pernah cukup? Ada semacam kelelahan yang datang bukan dari kurang tidur, namun datang dari mencoba, memberi dan keinginan untuk percaya bahwa upaya sudah cukup, meski sekedar untuk menjembatani kesenjangan antara siapa aku dan ingin menjadi seperti apa diri ini.
Aku gagal, harus memulai dari 0 lagi dan teguh pada pendirianku disaat terdapat masa lalu. tidak terelakkan, tapi semua akan berlalu.. dan yap, siapa sangka, ternyata setelah itu aku mencoba semua yang kubisa dan mulai memperbaikinya satu per satu. Di tahun ini, aku merasa menemukan versi diriku yang lebih "sadar" semua ternyata hanya kekakuanku terhadap goals yang harus berurutan, padahal ternyata melakukan secara acak pun tidak masalah. Ketika satu belum, coba yang kedua yang lebih memungkinkan dulu. Aku tetap mencintai prosesnya dan menghargai bahkan hal-hal yang kecil karna setidaknya itu membawaku ke arah yang baik. Aku mempercayai kuasa Tuhan dan meminta-Nya untuk meridhoi jalanku sesuai harapanku, namun jika belum, izinkan aku mengulangnya lagi.
Ketika aku sudah tidak terpaku pada satu hal, ternyata mencapai yang lainnya terlebih dulu pun juga tak kalah menyenangkan. Membersamai diri sendiri untuk melampaui semuanya, tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Batasan itu ternyata fana. Pada dasarnya jiwa kita tidak bisa dibohongi, bahkan ketika tahu itu menyakitkan, tapi aku bersedia menerimanya berkali-kali kegagalannya, penolakannya. Ketika cinta itu hadir, maka semuanya bisa diusahakan. Ada banyak hal ternyata yang bisa dilakukan bahkan bisa jadi pertama kalinya aku berbuat. Bahkan ketika dunia berpihak pada yang lain soal apa yang diperjuangkan, aku bisa ikut merasa bahagia. Seperti menemukan kembali gejolak dalam diri yang meruntuhkan keraguan didalamnya.
Bebannya masih sama, atau bahkan lebih, tapi ditengah tengahnya tiba-tiba ada destinasi baru, mimpi dan suasana baru yang bisa jadi turning poinku untuk menemukan serpihan diri yang lain, Begitulah alam bekerja terhadap peristiwa. Bukan soal pencapaian untuk saat ini, tapi ini tentang memilih diri sendiri dan melampaui semua batasan.
see you..
Komentar
Posting Komentar