Menyerah Bukanlah Suatu Pilihan

Hai para pejuang tangguh! Apa kabar kalian? Semoga selalu baik baik saja ya .. kali ini aku akan berbagi tentang "Menyerah Bukan Suatu Pilihan". Karena tidak dapat   dipungkiri, kita sebagai manusia biasa pasti pernah merasa muak dengan semua hiruk pikuk duniawi. Perasaan tersebut wajar kok .. Aku juga pernah merasakannya. Saat  sudah berjuang sekuat tenaga, namun hasil menghianati. Atau saat aku menyadari ada kesalahan dalam menjalankan sesuatu, namun sekitar tak pernah memberikan semangat.  Semua orang tau, tak ada perjalanan yang mudah, dan kita  tau, kita tak bertanggung jawab atas semuanya. Kita hanya bisa berjuang sebisa mungkin, soal berhasil atau tidaknya, terserah pada Yang Di Atas. 

                                         Bendera Putih Diartikan Sebagai Tanda Menyerah, Gimana Sih Mulanya ...

Semua memiliki latar belakang yang berbeda mulai dari pergaulan, keluarga, teman, dan aspek dalam diri sendiri yang ia jadikan prinsip. Dari berbagai aspek tersebutlah, terkadang dalam perpaduannya tidak terjadi keterpaduan. Tidak mungkin, bahkan seseorang dapat sangat terguncang dengan kegagalan dalam penyatuan perbedaan. Sulit ya? Aku akan berbagi pengalaman tentang ketidaksesuaian yang membuat konflik diri.

"Marmar, seorang perempuan yang tak begitu populer. Ia hidup dalam keluarga yang begitu baik, namun demikian ia merasa muak karena teman-teman sering melakukan bodyshaming dan intimidasi . Tak hanya itu, teman-teman juga menuntutnya untuk membuatnya seperti mereka.  bahkan Marmar pernah mengatakan bahwa dia "Tak punya selera yang sama." Namun tetap dipaksa. 

Dari uraian di atas, Ada dua kemungkinan yang akan terjadi di Marmar. Pertama: Jika dia mampu bertahan dan memegang semua yang menjadi prinsip diri dan akan memilih tidak lagi berhubungan dengan mereka atau kedua: Dia akan mempertahankan semuanya dan memiliki alternatif lain. Bu kankah Berbahaya jika kemungkinan kedua  Terjadi?

Tapi yang perlu digarisbawahi, Mengapa Jika perbedaan diakui sementara berbanding terbalik dengan toleransi . Marmar mungkin saja menjadi sangat tertutup dan tidak memperdulikan diri sendiri. Tidak jarang dia sering menangis hanya di kamar untuk kemudian muncul baik-baik saja dihadapan teman-teman. Dan dari sanalah muncul bibit-bibit pikiran negatif, Marmar merasa tak punya tempat untuk berbagi. Pikirannya melenceng dan bahkan memiliki misi untuk mengakhiri hidup. Pernahkah orang lain berhasil mengatasi masalah kesehatan mental yang serius? Bukan hanya raga, jiwa pun bisa tetap sakit. Sementara itu terjadi, sering dianggap gila dll. 

Jika kamu tidak pernah merasakan hal yang sama seperti Marmar atau apapun yang membuat kamu frustasi dan ingin menyerah, jangan pernah berfikir hal tersebut, seberapapun buntunya solusi dari masalah kalian. Aku mengerti tak mudah mudah untuk mengatasinya. Tapi sekali lagi, Aku percaya kamu bisa melewati ini. 

Dirimu sudah berjuang dengan sangat baik saat ini, dan kamu adalah orang yang berharga dalam kehidupan. Meskipun lebih banyak mengorbankan diri, namun kau tau, kau punya jiwa yang seluas samudera. Tak ada perjuangan yang sia-sia, Karna kalian adalah pejuang tangguh!
Itu tadi sharing pada kali ini. Ingat, kalian berharga dan layak! jangan pernah lelah untuk menebar kebaikan pada sekitar dan gapai mimpimu. Sampai jumpa para pejuang tangguh !! Semoga harimu menyenangkan dan tetap sehat yaa ..

referensi:
hai.grid.id


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sometimes The Best Closure is No Closure

This is a Love Letter Written For You

The Moment I Chose Myself, Nothing Could Stop Me