What if Teaching Instead of Questioning? Does Everything Become Easy?
Pernahkah merasa bahwa orang lain tidak memahami kita, padahal memiliki intensitas. Kita berharap orang yang mengenal kita paham meski tak berbicara. Lalu bagaimana mereka tau? Apa mereka ini perlu menjadi cenayang dulu? Awkawk.. Tapi ya, aku juga suka menuntut orang-orang terdekatku, karena ekspetasiku mereka bisa menggunakan intuisinya atau kebiasaan yang kulakukan. Tentu itu salah, dan tidak seharusnya begitu. Sampai dimana aku memahami diri sendiri dan mencoba kencan dengan diri sendiri entah makan, nonton, belajar, atau belanja. Aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih mengenalku selain diriku.
Disanalah ekspetasiku terhadap orang-orang mulai mengecil. Begitu juga dengan harapan-harapan seperti "mereka pasti mengerti, memaafkan, menerima" Kata Harusnya dan Pasti adalah kata kuncinya. Sekarang ini, ketika aku sudah bisa memasang batas dan mengerti kebutuhanku, tuntutan itu berubah menjadi pengajaran. Kupikir, jika memang aku ingin mendapatkan perlakuan yang sesuai keinginanku, yang dimana mereka juga belum mengerti. Aku mulai mengajar bagaimana caranya. Jadi ketika mungkin harapan yang kecil itu tetap penting bagiku, mereka bisa melakukannya dengan baik.
Tentu saja itu juga berlaku bagiku. Ketika mereka ingin sesuatu namun tidak mengajariku, aku akan bertanya bagaimana caranya. Tujuannya yaa agar feedbacknya sesuai. Tidak sempurna, tapi mendekati. Setidaknya itu lebih baik bukan? Tapi pertanyaanya apa dengan itu selesai? TIDAK. Seperti halnya murid, ada yang cepat menangkap, sedang, lamban, bahkan tidak mau tau. Begitupun mereka, orang- orang sekitar yang memiliki intensitas. Ada kasus dimana aku sudah berusaha menjelaskan keinginanku sekaligus bagaimana caranya, tapi mereka tidak mau. Dan ya, its fine..
Aku bisa mengajarkan tapi soal melakukan, itu kembali kepada individu
Artinya, ini tidak bisa dipaksakan. Bisa jadi memang tidak bisa, tapi setidak-tidaknya aku mencoba untuk maintance segelintir harapan itu , kalaupun tidak bisa yasudah. Yang mau aku garis bawahi adalah bagaimana kemudian pola pikirku berubah dari yang mempertanyakan mengapa menjadi mengajarkan bagaimana caranya. Ini juga membuat semuanya lebh mudah secara prosesnya dengan mencoba untuk menjelaskan daripada menyalahkan.
Kembali lagi, kita hanya manusia yang mengusahakan, selebihnya tergantung bagaimana semesta bekerja
See youu
Komentar
Posting Komentar