Its Always About You and Yourself
Kadang kita terlalu sibuk mikirin omongan orang, pengen nyenengin semua, takut dikatain ini-itu. Padahal, sadar nggak sih? Hidup ini ya tentang kamu, dan dirimu sendiri. Bukan tentang mereka yang cuma numpang komentar. Kamu yang ngerasain capeknya, kamu yang tahu perjuanganmu, kamu juga yang harus tanggung semua hasilnya. Jadi, kenapa harus repot-repot terlalu mikirin standar?Tulisan ini bukan buat ngajarin kamu jadi cuek bebek, tapi lebih ke ajakan buat balik ngaca—ngeliat diri sendiri, kenal lebih dalam, dan kasih ruang buat jadi versi terbaik dari diri kamu, tanpa drama validasi dari luar.
Ada temenku pernah bilang " kenapa ya hidup stuck dan pengen war terus" so i said, " akupun juga masih berusaha memperbaiki itu, aku juga pressure ke diri sendiri" cuman, aku nggak sestres itu, dimana keinginanku untuk on war tidak lebih penting dari diriku sendiri. Jadi apa maksudnya? Yap! sudut pandangnya. Buat bisa sampe sini aku juga pernah ada di posisi itu kok.
Dia bisa Aku juga!
Mereka berhasil Aku juga!
Mereka Punya Aku juga!
Yang mau kujelaskan adalah, bagaimana cara kita memandang ini. normalnya sebagai wujud bertahan hidup memang kita harus melihat ke atas untuk memotivasi. Tapi mari kita lihat. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? terkadang kita terlalu fokus untuk melampaui segalanya. padahal kita tau keinginan duniawi tidak akan pernah selesai sampai mati. Lantas apa yang dicari? apakah dengan terus naik level terus menerus akan membuatmu "Merasa Hidup", kurasa tidak kalau yang dicari adalah kepuasan tanpa batasan
Dalam hidup ini, tidak ada yang permanen dan lebih penting dari diri sendiri. hanya saja, terkadang kita tidak punya cukup waktu untuk mengetahui diri sendiri. Jadi berbagai standar dan keinginan yang lain bisa masuk dengan mudah, ke dalam diri yang terombang ambing itu. Tidak bisa tidur, selalu waspada, merasa bersaing setiap hari. Betapa mengerikannya itu terjadi setiap saat. Sedangkan sebetulnya kita tidak punya kendali atas itu. Akhirnya, ketika yang lain bilang " kamu terlalu bodoh" itu menjadi langsung valid, dan kita jadi rendah diri sampai berusaha membuktikan pada mereka. Singkat cerita kamu berhasil lulus harvard dan terverifikasi IQ diatas rata rata. Tapi sebenarnya masih bodoh. why? padahal kan sudah pintar.
Ini bukan soal hubunganmu dengan orang tua, teman, atau saudara. tapi ini tentangmu. what you want for your life? Ini part yang sulit untuk bisa berbicara dari hati ke hati. PADA DIRI SENDIRI, ya, sekali lagi pada diri sendiri, dimana kita berdiri sendiri tanpa campur tangan orang lain. pertanyaannya adalah, untuk siapa kita hidup? sementara semua orang punya egonya masing masing, entah untuk membelamu atau menjatuhkanmu. Tapi berbeda cerita jika pandangan terhadap pencapaian yang lain dilandasi karna memang ingin dan dirimu melihat itu sebagai motivasi, bukan bahaya atau sebuah ancaman. Itu yang seharusnya terjadi.
Kita sibuk untuk menyesuaikan dan berusaha sampai lupa
mempresentasikan siapa diri ini sebenarnya
Kita jadi hilang arah dan terombang ambing begitu saja, wajar jika itu menjadikanmu gila secara psikis diluar fisik yang kuat itu. Berapa banyak luka yang dipendam dan dibiarkan begitu saja? siapa yang akan bertanggungjawab atas itu semua? jika pemiliknya saja tidak peduli.
jadi, kapan terakhir kali dirimu berbincang pada diri sendiri? Kapan terakhir kali dirimu menyadari sekiranya apa yang dirimu suka? apa yang kamu ingnkan dalam hidup? persetan standar, sekali saja jadilah egois untuk mengerti apa yang sebenarnya dirimu mau, sekali saja. Tolong renungkan ini, dan jika memang belum tau jawabannya sekarang, its oke, just take your time. Berikan ruang pada dirimu untuk memperhatikan pada hal hal yang membuatmu bersinar dan sesuatu yang sekiranya menyiksamu. Mulai untuk menolak sesuatu yang tidak disukai dan izinkan dirimu untuk mengabulkan hal-hal yang selama ini terpendam. Kehidupan ini adalah milikmu, dan kita berhak untuk merasa hidup di setiap hela nafas. Kehidupan dimana dirimu tau siapa diri ini dan menciptakan keadilan atasnya. Karena dunia akan selalu menuntutmu melakukan keinginannya, Tapi dirimu? dirimu berhak memilih apa yang ingin dilakukan.
Dan ketika nantinya tidak ada yang berdiri bertepuk tangan atas pencapaianmu,
maukah kamu tetap berbuat? jika ya, maka itulah sebenar-benarnya dirimu
Ohh iya, caramu memandang diri sendiri menentukan bagaimana hidupmu berjalan. Dari segala kerendahan yang ada orang lain ada yang cukup akan kehadiranmu. Sesederhana menatap mata, memeluk yang lain. Ada hati yang berhasil kamu sentuh dengan warnamu, maka kita tidak pernah berjalan sendirian. Dengan segenap hati yang dimiliki, mari kita lalui dengan baik semuanya tanpa memaksakan. Bukan untuk merasa cepat puas, tnamun memandang perjuangan sebagai rasa syukur. Mari menemukan keadilan dengan melaluinya dengan baik hingga akhir.
see you..
Komentar
Posting Komentar