Bertumbuh itu Sakit Tapi Begitulah Hidup

Mengapa kita hidup?  Mengapa ini terjadi?  Mengapa aku harus terus berusaha? Pertanyaan itu pernah terpikirkan saat usiaku 20 tahun. Aku merasa dunia selalu memaksaku terus naik level,  terus berusaha walaupun berdarah darah.  Lalu apakah pertanyaan itu sudah selesai sekarang?  Jawabannya belum.  Aku masih sering tidak terima dengan segala yang terjadi padaku
Lalu apa perkembanganmu? Sementara itu terjadi sudah 3 tahun lalu.  Aku adalah pemerhati lingkungan,  aku senang melihat orang orang beraktivitas. Dan itu membuatku menyimpulkan,  ya memang begini manusia didesain, untuk menjadi sesuatu yang lebih dan lebih lagi.  

Awal mulanya aku bermasalah dengan relasi.  Aku selalu merasa aku berusaha semaksimal mungkin,  tapi orang orang tidak melakukan itu. No no i am not judge them.  I've been people pleaser.  Syukurnya aku mulai berpikir bahwa itu menyiksaku dan singkat cerita aku tumbuh menjadi pribadi yang sekarang. Sekarang ini soal relasi aku tidak begitu pusing lagi. Disaat tadinya aku selalu menuntut orang melakukan hal yang sama denganku.  Sedangkan realitanya orang bisa membuangku dengan mudah ketika sudah selesai masanya atau tidak satu visi lagi. It still hurt me sometimes, but... 

Aku hanya teman, relasi, atau sahabat.  Its mean aku tidak sepenting itu.  Tapi aku menyadari akupun juga bisa seperti itu dan itu fair.. 

 Lalu bagaimana solusinya?  Mungkin ya,  bagi sebagian orang ini perasaan yang tidak penting dan terlalu meromantisasi.  But let me tell u bahwa kalaupun aku tidak nyaman dengan kondisi komunikasi yang memburuk atau perubahan interaksi entah itu terjadi dariku atau orang lain, aku akan bilang bahwa aku sedang "tidak nyaman" secara langsung.
  
Mereka bukan tanggung jawabku 
dan akupun bukan tanggung jawab mereka. Kita bertanggung jawab 
pada diri kita masing masing.

 

Karna aku tau aku pribadi yang cukup playing victim dengan pola perilaku yang berubah pada orang orang disekitarku,  dan aku tau itu buruk, (maaf gaess tidak bermaksud). Lebih baik aku juga mengikuti pola mereka atau aku utarakan keresahanku. Tenang, aku cukup mudah evaluasi diri juga,  jadi walaupun rasa ingin menyalahkanku tinggi,  aku tidak pernah mengatakannya pada kalian,  karna aku tau itu tidak adil dan tidak benar.

Pada akhirnya relasi menyempit dan orang orang yang kita kenal menemui rumah masing masing, growing with their dream.  Dan akupun demikian. Jadi aku merefleksikan diri bagaimana kebaikan mereka selama ini,  dan menyadari perasaan buruk itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dilewati sebelumnya.  Memang, kasarannya sebagai teman kita adalah second choice yang dibutuhkan saat ingin. Kita tidak lebih penting dari kepentingan individu, bahkan bisa jadi kita jadi pemeran antagonis di kehidupan yang lain kan? And i think its okay about that.  

Begitulah kehidupan dewasa berjalan. Aku tidak sedang merasa menjadi korban atau merasa paling tersakiti.  Aku sudah melewati "fase gila" itu kemarin. Sekarang kita memang harus stuggle dengan kepentingan yang lebih besar dan lebih baik.   Dari sana aku juga mulai mengurus diriku sendiri dan baru merasakan kebebasan berekspresi juga.  Jadi ini tidak sepenuhnya buruk,  tapi pasti baik bagi diriku dan orang orang disekitarku. Toh ini  tidak akan mempengaruhi apapun dari impression yang ada.  Kalian tetap baik dan aku selalu berharap kalian selalu bahagia dimanapun berada. I am still your friend anywhere and infinity. 
Hubungi aku jika perlu atau berbagi hal tidak penting seperti aku poop 3 kali hari ini?  Walaupun intensitasnya berbeda tapi itu tidak merubah apapun,  kecuali growing jadi orang kaya dan sukses?  Yeahh

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sometimes The Best Closure is No Closure

This is a Love Letter Written For You

The Moment I Chose Myself, Nothing Could Stop Me